Berkembang adalah suatu hal yang mutlak harus dilakukan oleh
setiap individu. Untuk mencapai suatu titik kembang pun perlu dicapai dengan
berbagai cara. Organisasi PALAPASS pun punya keinginan untuk mengembangkan
kemampuannya. Ya tentu saja di bidang yang PALAPASS geluti, yaitu olahraga alam
bebas. Pada awal Januari kemarin PALAPASS bekerjasama dengan WANADRi untuk
melaksanakan kegiatan “Pelatihan Eksternal”.
Wanadri dipilih PALAPASS dalam pelatihan ini karena PALAPASS
menganggap Wanadri adalah salah satu perhimpunan pecinta alam yang
eksistensinya cukup baik. Wanadri adalah sebuah sebuah organisasi pecinta alam
yang berdiri pada tahun 1964 dan berkedudukan di Bandung. Salutnya, hingga
sampai tahun 2014 ini Wanadri mampu bertahan, meskipun kini semakin banyak
organisasi-organisasi lain yang mempunyai visi dan misi yang hampir sama.
Seperti yang kita tahu juga, Indonesia adalah salah satu
negara yang memiliki keindahan alam yang tersebar di berbagai pulaunya.
Indonesia pun merupakan satu-satunya negara yang dikelilingi ‘Cincin Api’.
Cincin api adalah sebutan bagi gunung-gunung berapi yang tentunya masih aktif
dan letaknya mengelilingi wilayah Indonesia dan membentuk satu lingkaran
seperti cincin. Maka dari itu pantaslah jika di Indonesia memiliki orang-orang
yang menamakan dirinya ‘Pecinta alam / Penikmat alam’.
PALAPASS sebagai salah satu organisasi pecinta alam merasa
perlu melakukan pengembangan bagi para anggotanya, dan lewat pelatihan inilah
salah satu caranya. Pelatihan ini juga ingin menunjukan sebuah keseriusan
PALAPASS dalam menggeluti bidang yang dipilih oleh organisasi ini. Bertepatan
dengan tanggalan merah yaitu tanggal 14
Januari 2013, hari itulah yang dipilih PALAPASS untuk mengadakan pelatihan itu,
dan diadakan di Ruang Yohanes, Paroki Salib Suci.
Materi yang dibahas dalam pelatihan itu adalah “Materi
Manajemen Perjalanan dan Materi Manajemen Perlengkapan dan Perbekalan”. Kedua
materi yang cukup mendasar dalam pelatihan organisasi yang menggeluti kegiatan
alam bebas ini dirasa memang perlu terus menerus didalami. PALAPASS merasa
lewat kedua materi itu PALAPASS mempunyai bekal ilmu yang cukup matang untuk
mengurangi resiko kecelakaan di gunung, atau ketika melakukan kegiatan PALAPASS
lainnya.
Ketika kegiatan pelatihan ini berlangsung, suasananya cukup
kondusif. Tanpa diduga-duga, masih begitu banyak hal yang belum diketahui
anggota PALAPASS tentang kedua materi itu. Itu terlihat lewat lontaran
pertanyaan-pertanyaan dari para anggota PALAPASS kepada si mediator, anggota
WANADRI.
“Mas, sebaiknya ketika melakukan pendakian makanan apa saja
yang seharusnya kita bawa?” Tanya Elroy Fransiskus, salah satu anggota
PALAPASS. Nampaknya pertanyaan ini cukup mudah di jawab oleh semua orang yang
mendaki gunung. Tapi Tio, mediator WANADRI itu menjawab, “Itu semua tergantung
kebutuhan kita sendiri mas, dan yang terpenting dalam hitungan satu hari tubuh
manusia memerlukan kalori sebesar 3000 s/d 3500 kalori.
PALAPASS bermimpi jika suatu saat mampu menjadi besar
seperti WANADRi. Lewat kegiatan pelatihan ini, PALAPASS mendapat bekal ilmu
tambahan bagi para anggotanya. PALAPASS juga berharap jika komunitas pecinta
alam lain juga seharusnya memiliki bekal yang mumpuni sebelum melakukan
kegiatan alam bebas, ini juga berguna untuk mengurangi tingkat kecelakaan di
gunung yang cukup tinggi. Sampai saat ini yang kita tahu juga masih begitu banyak
kecelakaan di gunung yang ketika ditelusuri kebanyakan penyebabnya adalah
kecerobohan dari para pendaki.
SALAM LESTARI!!!