Kamis, 05 Juni 2014

MISA ALAM "Semakin Menghijau Dalam Iman"

Perayaan ekaristi ternyata tidak harus selalu diselenggarakan di dalam sebuah gereja. PALAPASS baru-baru ini telah membuat sebuah perayaan ekaristi yang sedikit berbeda, karena mengadakannya di sebuah alun-alun terbesar di Tanah Jawa, yaitu di Alun-alun Surya Kencana di ketinggian 2700 mdpl di dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango pada 24 – 27 Mei 2014 yang lalu.

Perayaan ekaristi / misa alam ini mengundang seluruh OMK se-KAJ. Namun kenyataannya acara ini tidak hanya menarik minat dari OMK saja, tapi telah berhasil menarik minat dari salah seorang lansia yang berumur 60 tahun ke atas dari paroki. Acara ini berhasil menarik sekitar 130an peserta yang ternyata bukan hanya dari OMK se-KAJ saja tapi ada OMK yang berasal dari Ponorogo, Rangkas Bitung dan Bandung.

Dengan mengusung tema acara “Semakin Menghijau Dalam Iman”, acara ini tidak hanya diisi dengan perayaan ekaristi saja namun juga dengan operasi bersih di beberapa titik yang penuh sampah di alun-alun itu. Dalam operasi bersih ini bukan hanya peserta yang mengikutinya, namun Pastor Petrus Hastomo Arbi,CM dan Frater Paulus Punjung Widodo,Cm pun ikut berpartisipasi.

Seluruh peserta dari misa alam ini, berkumpul di halaman Gereja Salib Suci pada pukul 20.00 WIB pada tanggal 24 Mei malam hari. Tepat pukul 22.00 WIB seluruh peserta berangkat dari Cilincing dengan menggunakan tronton menuju Cipanas. Tepat pada pukul 02.00 WIB dini hari peserta sampai di Desa Sukatani, Cipanas. Peserta langsung diarahkan ke area camp ground di kaki Gunung Putri.

Ketika pagi menjelang, peserta bergegas melakukan pendakian menuju Alun-alun Surya Kencana tepat pada pukul 09.00 WIB. Pada saat mendaki peserta dibagi menjadi 6 kelompok, ini bermaksud agar mempermudah koordinasi perjalanannya. Setelah sekitar 9 jam perjalanan mendaki, akhirnya para peserta sampai di alun-alun, dan disambut oleh beberapa panitia advance dengan pemberian welcome drink.

Setelah kemarin para peserta lelah berjalan, pagi pukul 05.00 dini hari tanggal 26 Mei, para peserta melakukan summit attack ke puncak Gunung Gede. Ketika summit attack tidak semua peserta ikut karena beberapa masih ada yang terlelap dalam tidurnya karena kelelahan berjalan. Usai dari itu pada pukul 11.00 WIB para peserta melakukan operasi bersih, sebagai aksi peduli lingkungan sekitar.

Setelah jam makan siang sekitar pukul 14.00 WIB, perayaan ekaristi dimulai yang dipersembahkan oleh Romo Petrus Hastomo Arbi,Cm. Perayaan ekaristi ini berlangsung cukup hikmat, namun sempat diguyur oleh hujan sesaat, anehnya langit kembali cerah setelah 10 menit berlalu.

Ketika gelap datang, pada pukul 19.00 WIB para peserta melakukan Doa Rosario yang dipimpin oleh Frater Paulus Punjung Widodo,CM. Meski harus bertarung sengit dengan dinginnya udara malam, namun doa tetap berjalan dengan hikmat pula.

Keesokan harinya perjalanan turun dimulai pada pukul 09.30 WIB dan sampai di Desa Sukatani lagi setelah 5 jam perjalanan. Sesampainya peserta di bawah, langsung diarahkan ke salah satu warung makan untuk sekedar rehat dan mengisi perut setelah lelah berjalan. Sebelum gelap datang si bapak supir tronton langsung membawa kami pergi kembali menuju ke Jakarta, dan akhirnya kembali sampai di Gereja Salib Suci pada pukul 21.00 WIB.

Jumat, 21 Maret 2014

PECINTA ALAM BUKAN SEBUAH NAMA BIASA

Indonesia yang sangat kaya akan  keindahan bentang alamnya, tak sengaja memunculkan orang-orang yang  berkecimpung di kegiatan alam. Begitu banyak yang sudah terlibat dari sekedar para penikmat alam sampai sekelompok orang yang menamakan dirinya pecinta alam.
Apa sebenarnya pecinta alam itu? Dan sejak kapan nama pecinta alam itu mulai muncul? Jika ingin berbicara soal ini, ada baiknya kita runtut sejarah tentang pecinta alam.


Nama Soe Hok Gie yang disebut-sebut sebagai aktivis yang tak sengaja memunculkan sebutan ‘Pecinta Alam” bagi sekelompok orang yang mengabdikan hidupnya bagi alam sekitarnya.
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
-Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran.
Soe Hok Gie mempunyai latar belakang sebagai seorang aktivis kampus muda pada tahun 1964. Gie akhirnya meninggal di tengah-tengah perjalanan turun dari puncak Mahameru- Semeru, karena terkena gas beracun yang setiap harinya hingga kini masih aktif dikeluarkan oleh Gunung Semeru.

Beberapa tahun setelah Gie meninggal, muncullah Kode Etik Pecinta Alam, dan berhasil disahkan di Ujung Pandang pada 24 Januari 1974.

Namun sayangnya semakin lama nama pecinta alam semakin disalah gunakan. Penyalah gunaannya yang mudah terlihat adalah dengan cara vandalisme. Tanpa mampu kita pungkiri coretan-coretan absurd itu dibuat oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya pecinta alam. Miris sekali nampaknya.

Jika kita menengok keluar, negara-negara lain tidak ada kumpulan orang yang berani menamakan dirinya dengan kata “pecinta alam”, karena tanpa disadari tanggung jawab yang dipikul dari kedua kata itu cukup berat. Biasanya mereka menamakan dirinya dengan sebutan aktivis lingkungan.

Kini kelompok-kelompok pecinta alam semakin banyak tersebar di Indonesia. Semoga saja mereka yang menamakan dirinya pecinta alam mampu memahami dan menjalani tanggung jawab sebagai pecinta alam sesungguhnya. LESTARI…

Jumat, 21 Februari 2014

PALAPASS dan WANADRI

Berkembang adalah suatu hal yang mutlak harus dilakukan oleh setiap individu. Untuk mencapai suatu titik kembang pun perlu dicapai dengan berbagai cara. Organisasi PALAPASS pun punya keinginan untuk mengembangkan kemampuannya. Ya tentu saja di bidang yang PALAPASS geluti, yaitu olahraga alam bebas. Pada awal Januari kemarin PALAPASS bekerjasama dengan WANADRi untuk melaksanakan kegiatan “Pelatihan Eksternal”.

Wanadri dipilih PALAPASS dalam pelatihan ini karena PALAPASS menganggap Wanadri adalah salah satu perhimpunan pecinta alam yang eksistensinya cukup baik. Wanadri adalah sebuah sebuah organisasi pecinta alam yang berdiri pada tahun 1964 dan berkedudukan di Bandung. Salutnya, hingga sampai tahun 2014 ini Wanadri mampu bertahan, meskipun kini semakin banyak organisasi-organisasi lain yang mempunyai visi dan misi yang hampir sama.

Seperti yang kita tahu juga, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki keindahan alam yang tersebar di berbagai pulaunya. Indonesia pun merupakan satu-satunya negara yang dikelilingi ‘Cincin Api’. Cincin api adalah sebutan bagi gunung-gunung berapi yang tentunya masih aktif dan letaknya mengelilingi wilayah Indonesia dan membentuk satu lingkaran seperti cincin. Maka dari itu pantaslah jika di Indonesia memiliki orang-orang yang menamakan dirinya ‘Pecinta alam / Penikmat alam’.

PALAPASS sebagai salah satu organisasi pecinta alam merasa perlu melakukan pengembangan bagi para anggotanya, dan lewat pelatihan inilah salah satu caranya. Pelatihan ini juga ingin menunjukan sebuah keseriusan PALAPASS dalam menggeluti bidang yang dipilih oleh organisasi ini. Bertepatan dengan tanggalan merah  yaitu tanggal 14 Januari 2013, hari itulah yang dipilih PALAPASS untuk mengadakan pelatihan itu, dan diadakan di Ruang Yohanes, Paroki Salib Suci.

Materi yang dibahas dalam pelatihan itu adalah “Materi Manajemen Perjalanan dan Materi Manajemen Perlengkapan dan Perbekalan”. Kedua materi yang cukup mendasar dalam pelatihan organisasi yang menggeluti kegiatan alam bebas ini dirasa memang perlu terus menerus didalami. PALAPASS merasa lewat kedua materi itu PALAPASS mempunyai bekal ilmu yang cukup matang untuk mengurangi resiko kecelakaan di gunung, atau ketika melakukan kegiatan PALAPASS lainnya.

Ketika kegiatan pelatihan ini berlangsung, suasananya cukup kondusif. Tanpa diduga-duga, masih begitu banyak hal yang belum diketahui anggota PALAPASS tentang kedua materi itu. Itu terlihat lewat lontaran pertanyaan-pertanyaan dari para anggota PALAPASS kepada si mediator, anggota WANADRI.

“Mas, sebaiknya ketika melakukan pendakian makanan apa saja yang seharusnya kita bawa?” Tanya Elroy Fransiskus, salah satu anggota PALAPASS. Nampaknya pertanyaan ini cukup mudah di jawab oleh semua orang yang mendaki gunung. Tapi Tio, mediator WANADRI itu menjawab, “Itu semua tergantung kebutuhan kita sendiri mas, dan yang terpenting dalam hitungan satu hari tubuh manusia memerlukan kalori sebesar 3000 s/d 3500 kalori.

PALAPASS bermimpi jika suatu saat mampu menjadi besar seperti WANADRi. Lewat kegiatan pelatihan ini, PALAPASS mendapat bekal ilmu tambahan bagi para anggotanya. PALAPASS juga berharap jika komunitas pecinta alam lain juga seharusnya memiliki bekal yang mumpuni sebelum melakukan kegiatan alam bebas, ini juga berguna untuk mengurangi tingkat kecelakaan di gunung yang cukup tinggi. Sampai saat ini yang kita tahu juga masih begitu banyak kecelakaan di gunung yang ketika ditelusuri kebanyakan penyebabnya adalah kecerobohan dari para pendaki.


SALAM LESTARI!!!

Kamis, 16 Januari 2014

TINGGALKAN JEJAK HIJAUMU DI PAPANDAYAN


Papandayan berikan sebuah kisah baru bagi PALAPASS. Kegiatan Pendakian Massal “Tinggalkan Jejak Hijaumu” yang diadakan di Gunung Papandayan, Garut pada 29 November s/d 1 Desember 2013 meninggalkan sebuah pesan jika tak selamanya gunung itu kotor, karena ulah para pendaki yang kurang bertanggung jawab atas sampah mereka.

Tema kegiatan “Tinggalkan Jejak Hijaumu” yang semula dirancang oleh PALAPASS ke Gunung Papandayan, memang bermaksud untuk menjalankan kegiatan Operasi Bersih (OPSI). Sebuah kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan kawasan sekitar dari  sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki.

Kenyataan yang dihadapi di sana memang cukup berbeda. Tempat yang seharusnya diprediksi menjadi tempat berkumpulnya sampah-sampah, namun ternyata selama perjalanan pendakian menuju areal camping tidak ada sampah yang nampaknya berani mengotori jalur pendakian. Alasan PALAPASS memilih Gunung Papandayan menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ini karena jalur yang ditempuh oleh para peserta kegiatan tak terlalu sulit, jarak yang ditempuh untuk mencapai areal camping tak terlalu jauh, dan karena gunung ini bukan hanya dilalui oleh para pendaki saja, tetapi banyak para penambang sulfur yang berlalu-lalang, serta banyak tukang ojek yang menawarkan tumpangan dengan motor trailnya.

Meeting Point  awal acara ini adalah di Paroki Salib Suci, Cilincing pada tanggal 29 November pukul 20.00 WIB. Keberangkatan menuju Kota Garut dimulai pada pukul 21.00 dan sampai tepat di pertigaan Cisurupan pada pukul 02.00 WIB. Seturunnya dari bis pariwisata, dinginnya pegunungan langsung menyerang tubuh para pendaki. Belum sempat menghilangkan dingin dari tubuh, para peserta pendaki langsung diantar ke pos pendaftaran Gunung Papandayan dengan menggunakan mobil pick-up.

Pendakian menuju Pondok Salada dimulai pada tanggal 30 November 2013 tepat pada pukul 06.00 WIB. Awal pendakian menuju gunung ini kita sudah disuguhi dengan indahnya alam. Puluhan kawah terhampar di awal perjalanan mendaki menuju Pondok Salada. Beberapa peserta sempat merasa sesak di saat menghela nafas karena udara yang dihirup sudah terkontaminasi oleh gas sulfur.

Siang menjelang, tepat sebelum jam makan siang terlewati, pada pukul 11.30 WIB peserta kegiatan “Tinggalkan Jejak Hijaumu” sampai di Pondok Salada. Acara langsung disambung dengan mendirikan tenda (shelter) lalu makan siang.Perjalanan mendaki untuk hari itu berhenti di Pondok Salada. Hari hampir berlalu namun sebelum menutup hari acara dilanjut dengan acara api unggun. Meski suhu saat itu begitu dingin, namun api unggun dan keramaian obrolan para peserta pendakian membuat suasana menjadi begitu hangat.

Keesokan harinya, ketika Sang Matahari masih malu-malu keluar dari peraduannya, pada pukul 06.00 WIB pendakian dilanjutkan menuju Tegal Alun yang merupakan area konservasi. Tegal Alun merupakan lading yang dipenuhi ratusan Edelweis (Anaphalis Javanica) yang merupakan flora khas Pulau Jawa. Sebelum menuju Tegal Alun, peserta disuguhi dengan ratusan pohon mati akibat letusan Papandayan, area itu disebut dengan nama Hutan Mati. Tempat itu seakan menjadi saksi bisu akan ganasnya gunung di daerah Garut itu.

Setelah sampai di Tegal Alun, dan mengambil foto-foto pemandangan di Tegal Alun, peserta langsung menuju kembali ke areal camp Pondok Salada. Sesampainya di sana peserta langsung makan siang. Ketika para peserta usai makan siang, acara dilanjutkan dengan acara inti dari “Tinggalkan Jejak Hijaumu” yaitu kegiatan OPSI. Antusias peserta untuk menjalankan OPSI cukup baik, namun OPSI yang diadakan hanya di sekitaran areal camp karena sanitasinya cukup baik.

Acara ini dinilai cukup sukses karena tujuan utama dari acara ini adalah mengajak para peserta untuk turut berpartisipasi untuk peduli dengan alam sekitar kita. Dengan menjaga alam sekitar kita, kita belajar juga untuk mensyukuri alam cipataanNya yang indah ini,  

Sabtu, 27 Juli 2013

EXPEDISI GUNUNG CIREMAI

Kawasan Gunung Ciremai merupakan suatu ekosistem pegunungan yang unik dibandingkan dengan kawasan pegunungan yang lain. Keunikannya ini adalah karena letaknya yang relatif tidak jauh dengan laut jawa, yang otomatis memberikan keunikan ekosistem dalam kawasan Gunung Ciremai.

Gunung setinggi 3.078 meter dan tertinggi di Jawa Barat itu menyimpan pesona tinggi,sehingga  banyak menarik perhatian berbagai kalangan generasi muda dari berbagai daerah untuk mendakinya. Untuk mendaki puncak Ciremai, terdapat tiga alternatif pilihan jalur yaitu melalui Linggarjati dan Palutungan di Kabupaten Kuningan atau melalui Apuy di Kabupaten Majalengka.

Di gunung inilah kami sekolompok muda-mudi yang baru dilantik sebagi anggota PALAPASS  Angkatan III di SITU GUNUNG,CISAAT/SUKABUMI /JAWA BARAT pada tanggal 3 Febuari 2013 memutuskan untuk melakukan pendakian bersama pada tanggal 8 Mei 2013 melalui jalur Palutungan, dalam rangka penerimaan Emblem bendera merah putih yang bertuliskan PALAPAS  yang akan diserahkan oleh angkatan II kepada angkatan kami.

Pada hari Rabu,8 mei 2013.kami angkatan III dan angkatan II  yang berjumlah 13 orang langsung berangkat meninggalkan Gereja,tepatnya pukul 20.50 WIB tiba di Simpang Lima Semper pada pukul 21.02 WIB tujuan awal kami yaitu terminal Pulo Gadung dan sampa disana pada pukul 21.55 WIB.

Setibanya kami di Pulo Gadung kami langsung menuju bis jurusan Kuningan, pada pukul 23.00 WIB bis yang kami tumpangi pun mulai meninggalkan jejaknya di Pulo Gadung menuju Kuningan.Tiba di Simpang Tiga Cirendang pada hari Kamis, 9 Mei 2013 pukul 05.45 WIB, kami langsung naik mobil angkutan umum jurusan palutungan dan tiba di basecamp palutungan pada pukul.06:05 WIB.

Seusai istrirahat,kami pun memulai pendakian kami. Tiba di selter pertama(batas hutan) pada pukul 10.00 WIB (ketinggian 1.200 meter dengan letak koordinat S: 06* 56.378’ E: 108*25.993’).Tiba di Pos I CIGOWONG (koordinat S: 06* 56.057’ E: 108* 24. 576’,dengan ketinggian 1.612 meter) pada pukul 12.30 WIB ditempat  ini kami memutuskan untuk bermalam dan akan melanjutkan pendakian besok pagi.

 Jumat,10 Mei 2013 tepat pukul 05.30 kami bangun dari tidur kami, waktu itu cuacanya sangat cerah, udara segar dan dingin.  Suasana ini membuat seluruh tenaga kami pulih kembali. kami melanjutkan pedakian pada pukul 08.15 WIB.

Tiba di Pos II KUTA pukul 08.40 WIB ( koordinat S: 06* 55.954’ E: 108* 24.442’ dengan ketinggian 1.648 meter). Hanya sesaat kami berjalan akhirnya kami sampai di Pos III PAGUYUNGAN BADAK pada pukul 09.26 WIB (koordinat S: 06* 55.559’ E: 108* 24.186’ ketinggian 1.870 meter).

Butuh waktu sekitar satu jam lebih  kami berjalan akhirnya  kami tiba di Pos IV ARBAN tepatnya pada  
pukul.10:50 WIB dengan ketinggian 2.066 meter. Di pos ini kami Istirahat sejenak (makan siang) dan pada pukul 12.30 WIB melanjutkan pendakian.

Sekitar 20 menit kami berjalan kami tiba di Pos V TANJAKAN ASOY pada pukul 12.50 WIB (koordinat S : 06* 55.009’ E : 108* 23.990’, ketinggian 2.164 meter)  melanjutkan pendakian pada pukul 13.00 WIB. Tiba di Pos VI PESANGGRAHAN (koordinat S: 06* 54.483’ E: 108* 24.017’,dengan ketinggian 2.445 meter) pada pukul 14.30 WIB.  
Tiba di SANGHYANG ROPOH  pada pukul 16.05 WIB( ketinggian 2.600 meter koordinat  S: 06*54’54.13.9’   E: 108* 24’01.4’) di sinilah terlihat sangat jelas wajah lelah kami dengan kondisi suhu alam yang sangat dingin kami terus bersemangat hingga tiba di POS 7 GOA WALET  pada ketinggian 2.905 meter ,kami langung memasang tenda dan masak,makan malam lalu istirahat.

Sabtu,10 Mei 2013 pukul.08:45 kami berjalan menuju puncak kira-kira 20 menit kami berjalan tampak sebuah cekungan tanah yang dalam dan luas dihadapan kami,beberapa dari kami langsung bersujut , bahagia,terharu,entah sulit rasanya diucapkan dengan kata-kata tentang apa yang dirasakan kami semua saat itu. 

Kami semua sukses sampai di PUNCAK GUNUNG CIREMAI dengan ketinggian 3.078 mdpl.
Pada pukul 09.25 WIB kami melakukan upacara apel bendera,selesai upacara bendera maka tibalah acara puncak kami,yaitu penerimaan Emblem bendera merah putih yang bertulisan PALAPASS. Rasa senang dan bahagia,kami semua rasakan pada saat itu. Acara kami pun selesai.. karena cuaca saat itu lumayan cerah, kami memanfaatkannya untuk menikmati pemandangan lautan awan  dan melakukan dokumentasi.

Pada pukul 10.45 kami bergegas turun karena mulai kabut.tiba di GOA WALET yaitu pada pukul 11.00. kami beranjak dari  GOA WALET pada pukul 12.45 WIB tiba di SANGHYANG ROPOH pukul 13.30 jarak tempuh dari SANGHYANG ROPOH  ke Pos VI PESANGGRAHAN, Pos V TANJAKAN ASOY, Pos IV ARBAN,  Pos III PAGUYUNGAN BADAK, Pos II KUTA masing - masing kurang lebih 30menit. Dari Pos II KUTA ke Pos I CIGOWONG hanya 20 menit.

Tiba Pos I CIGOWONG pada pukul 16.20 WIB kami istirahat dan pada pukul 17.15 melanjutkan perjalanan pulang.hari pun semakin lama semakin gelap,setelah cukup lama kami berjalan kami tiba di shelter batas hutan pukul 19.20 WIB dan langsung melanjutkan perjalanan  ke basecamp. Tiba di basecamp pada pukul 20.00 WIB.

Di basecamp kami istirahat ,mandi,makan,karena semua pada lelah kami memutuskan untuk bermalam. Keesokan hari nya yaitu pada hari Minggu,11 Mei 2013 pada pukul 07.35 WIB kami naik angkutan umum ke Cirendang.tiba di sana pukul 08.00 WIB dan langsung menumpang bis jurusan Pulo Gadung.


Tiba di simpang tiga Cakung pukul 14.05 WIB, langsung naik angkutan umum menuju Semper dan tiba di semper pada pukul 14.30 WIB Kami pun bergegas menuju gereja.tiba digereja pada pukul 14.40 WIB kami semua langsung berkumpul untuk berdoa mengucapkan syukur  kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perlindunganya mulai dari perjalanan menuju puncak hingga pulang dan sampai di gereja.

Jumat, 28 Juni 2013

PENYEWAAN ALAT "PALAPASS"

NO    NAMA BARANG                HARGA/HARI
   
   1          tenda dome consina (4 - 5 org)                   Rp 50.000,-   
   
   2          tenda dome coleman (3 - 4 org)                  Rp 30.000,-

   3          carrier 60 ltr                                                 Rp 15.000,-

   4          fly-sheet                                                       Rp 15.000,-

   5          Matras                                                         Rp   7.000,-

   6          Kompor Gas portable                                 Rp 15.000,-
  
   7          Misting                                                        Rp   7.000,-



More info, please contact : 08811032285 / 081253803002 

Rabu, 26 Juni 2013

Dua Wajah Untung Jawa

Siapa yang tak kenal dengan jajaran kepulauan kecil yang letaknya di sebelah utara ibukota Jakarta ? Yah benar, jajaran kepulauan itu sering kita sebut dengan Kepulauan Seribu. Banyak pulau-pulau disana yang mempunyai daya tarik pariwisata bagi para pelancong misalnya Pulau Pramuka, Tidung, Bidadari, Pari,dll.

Tahu gak ada salah satu pulau yang mempunyai keunikan tersendiri dan telah mampu menarik para pelancong tuk sekedar mengunjungi pulau itu loh? Mau tahu pulaunya? Hemm.. Pulau yang dimaksud adalah Pulau Untung Jawa, salah satu pulau yang memiliki keunikan dari segi namanya.Nama itu didapat karena pulau ini diketemukan pertama kali oleh sekumpulan orang jawa.

Tidak dari segi nama saja, keunikan lainnya yaitu wisata bakau yang disebut dengan nama Jembatan Bakau. Sebuah hamparan tumbuhan bakau yang tumbuh di pesisir pulau itu dan dapat diakses dengan berjalan kaki atau naik sepeda, karena telah dibangun jalan-jalan kecil seperti jembatan di  atas ladang bakau yang ada.
Luas keseluruhan dari pulau ini yaitu 40,10 Ha.Pulau ini diisi oleh 55 kepala keluarga dan berpenduduk sekitar 1.888 jiwa. Pulau Untung Jawa ini mampu diakses dengan 3 jalur penyebrangan yaitu, jalur Muara angke, jalur Tanjung Pasir dan jalur Rawa Saban.

Pulau ini sebenarnya telah memiliki sistem pembuangan akhir untuk sampah- sampah yang diproduksi oleh masyarakat sekitar dan para pelancong. Namun di bagian barat pulau ini sungguh mengejutkan. Sebuah pulau yang terlihat tertata rapih nan indah di bagian selatannya namun terlihat memprihatinkan di bagian barat pulau itu, karena jutaan sampah yang berserakan.

Sampah yang berserakan memang nampaknya memang bukan merupakan sampah yang sengaja dibuang oleh para pelancong ataupun masyarakat sekitar, namun sampah- sampah yang terbawa ombak dan sampailah di pesisir pantai pulau itu.Sayangnya hal ini tidak mendapat perhatian besar dari pemerintah sekitar.

Sampah itu bukan sengaja terhampar bebas di pesisir pantai, namun telah mengotori ladang bakau yang seharusnya menjadi habitat  dari hewan-hewan laut yang ada.Sungguh miris rasanya melihat lanngsung ke dataran Pulau Untung Jawa itu, karena membuat kata ‘indah’ yang kita lontarkan di awal ketika sampai di pulau itu, menjadi kata ‘indah yang semu’.

Sasaran itulah yang akan dituju lewat kegiatan “FUN IN ISLAND” yang diadakan oleh Pecinta Alam Paroki Salib Suci (PALAPASS) pada 6-7 Juli 2013. Selain kita berlibur, kita juga akan melakukan penanaman bakau dan operasi bersih pulau. Itulah alasan mengapa PALAPASS mengadakan kegiatan ini di Pulau Untung Jawa.

Lewat kegiatan ini PALAPASS berharap akan ada dampak baik yang didapat. Pelestarian alam dan menjaga kebersihan pulau itulah yang menjadi harapan dari kegiatan ini, karena pada dasarnya menjaga alam kita ini tidak hanya di gunung seperti yang sering dilakukan oleh PALAPASS, tetapi dimana pun kita berada kita harus selalu sadar untuk menjaga lingkungan sekitar kita.