Seiring sang mentari yang telah
berdiri di ufuk timur Kota Kuningan, sampailah sekelompok pecinta alam yang
menamakan dirinya PALAPASS di kota kecil daerah Jawa Barat itu pada 9 Mei 2013 lalu.
Penampilan yang sedikit berantakan, menjadi cindera mata dari perjalanan satu
malam dari Jakarta menuju Kuningan.
Sayup-sayup udara dingin sesekali
masih bertiup, seakan menusuk tulang-tulang yang hanya berbalut seonggok daging
dan sehelai pakaian yang mereka kenakan. Sekitar satu jam perjalanan
menggunakan angkot dari pertigaan Cirendang, sampailah mereka di Base Camp Taman Nasional Gunung Ciremai
(TNGC).
Hamparan indah pelataran Gunung
Ciremai (3078mdpl) telah terpampang luas di hadapan mereka. Gagahnya puncak
Ciremai tak sedikit pun menurunkan nyali mereka untuk melakukan pendakian,
namun seakan menyulut api semangat dalam diri mereka untuk segera melakukan
pendakian.
Usai makan pagi untuk sekedar
mengisi perut dan sebagai bekal penambah stamina, mereka langsung melakukan
pendakian. Perjalanan dirasa cukup
menghabiskan banyak tenaga untuk mencapai Pos 1 Cigowong, sebuah tanah
lapang yang memiliki sumber mata air, dan tempat ini menjadi sumber mata air
pertama dari dua sumber mata air yang ada di Ciremai.
Setelah tiga jam perjalanan
berlalu sampailah mereka di Cigowong, tepat waktu untuk makan siang dan mengisi
stamina kembali untuk melanjutkan perjalanan. Namun karena kondisi fisik yang
tidak memungkinkan, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat shelter (buka tenda) di Cigowong.
Malam berlalu dan pagi pun tiba,
meski subuh tadi titik-titik hujan membasahi tenda mereka, tapi untunglah saat
itu terang, dan mereka siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Pos 8 Goa
Walet. Pos yang menjadi tempat sumber mata air terakhir di Ciremai sebelum
menuju puncak Ciremai.
Tepat ketika senja melangkah
datang menghampiri, perjalanan pun usai. Kini Goa Walet telah berada di hadapan
mereka. Perjalanan mereka menuju Goa Walet bukan hanya perjalanan biasa saja,
namun menjadi saksi bisu bagi tim PALAPASS khususnya angkatan 3 tentang semangat
persaudaraan yang membuat mereka mampu berjalan. Jauh lebih lama dan lebih jauh
dari biasanya.
Waktu hampir malam, dan perut
terasa sangat lapar. Sesaat setelah makan malam kami langsung beristirahat agar
esok hari kami mampu mencapai puncak Ciremai bersama-sama.
Kabut masih turun secara
perlahan, udara dingin seakan menusuk-nusuk jaket tebal yang mereka gunakan,
seakan memaksa mereka tuk bangun dari mimpinya dan bergegas melakukan pendakian
menuju puncak Ciremai.
Perjalanan menuju puncak Ciremai
hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Sesampainya di puncak itu, rasa haru,
rasa lelah bercampur satu dan terwujud dalam doa syukur yang dipanjatkan oleh
tiap insan dari kelompok PALAPASS itu.
Ciremai seakan menjadi saksi bisu
dan perekam abadi dari bagaimana sekelompok anggota pecinta alam PALAPASS.
Saksi dari sebuah kelelahan, sebuah pengorbanan, sebuah tenggang rasa dalam
memahami sahabat yang dianggap sebagai saudara sendiri, dan saksi bagaimana
seorang pribadi telah mampu mengatasi dan melewati batas-batas dalam dirinya
sendiri.