Jumat, 28 Juni 2013

PENYEWAAN ALAT "PALAPASS"

NO    NAMA BARANG                HARGA/HARI
   
   1          tenda dome consina (4 - 5 org)                   Rp 50.000,-   
   
   2          tenda dome coleman (3 - 4 org)                  Rp 30.000,-

   3          carrier 60 ltr                                                 Rp 15.000,-

   4          fly-sheet                                                       Rp 15.000,-

   5          Matras                                                         Rp   7.000,-

   6          Kompor Gas portable                                 Rp 15.000,-
  
   7          Misting                                                        Rp   7.000,-



More info, please contact : 08811032285 / 081253803002 

Rabu, 26 Juni 2013

Dua Wajah Untung Jawa

Siapa yang tak kenal dengan jajaran kepulauan kecil yang letaknya di sebelah utara ibukota Jakarta ? Yah benar, jajaran kepulauan itu sering kita sebut dengan Kepulauan Seribu. Banyak pulau-pulau disana yang mempunyai daya tarik pariwisata bagi para pelancong misalnya Pulau Pramuka, Tidung, Bidadari, Pari,dll.

Tahu gak ada salah satu pulau yang mempunyai keunikan tersendiri dan telah mampu menarik para pelancong tuk sekedar mengunjungi pulau itu loh? Mau tahu pulaunya? Hemm.. Pulau yang dimaksud adalah Pulau Untung Jawa, salah satu pulau yang memiliki keunikan dari segi namanya.Nama itu didapat karena pulau ini diketemukan pertama kali oleh sekumpulan orang jawa.

Tidak dari segi nama saja, keunikan lainnya yaitu wisata bakau yang disebut dengan nama Jembatan Bakau. Sebuah hamparan tumbuhan bakau yang tumbuh di pesisir pulau itu dan dapat diakses dengan berjalan kaki atau naik sepeda, karena telah dibangun jalan-jalan kecil seperti jembatan di  atas ladang bakau yang ada.
Luas keseluruhan dari pulau ini yaitu 40,10 Ha.Pulau ini diisi oleh 55 kepala keluarga dan berpenduduk sekitar 1.888 jiwa. Pulau Untung Jawa ini mampu diakses dengan 3 jalur penyebrangan yaitu, jalur Muara angke, jalur Tanjung Pasir dan jalur Rawa Saban.

Pulau ini sebenarnya telah memiliki sistem pembuangan akhir untuk sampah- sampah yang diproduksi oleh masyarakat sekitar dan para pelancong. Namun di bagian barat pulau ini sungguh mengejutkan. Sebuah pulau yang terlihat tertata rapih nan indah di bagian selatannya namun terlihat memprihatinkan di bagian barat pulau itu, karena jutaan sampah yang berserakan.

Sampah yang berserakan memang nampaknya memang bukan merupakan sampah yang sengaja dibuang oleh para pelancong ataupun masyarakat sekitar, namun sampah- sampah yang terbawa ombak dan sampailah di pesisir pantai pulau itu.Sayangnya hal ini tidak mendapat perhatian besar dari pemerintah sekitar.

Sampah itu bukan sengaja terhampar bebas di pesisir pantai, namun telah mengotori ladang bakau yang seharusnya menjadi habitat  dari hewan-hewan laut yang ada.Sungguh miris rasanya melihat lanngsung ke dataran Pulau Untung Jawa itu, karena membuat kata ‘indah’ yang kita lontarkan di awal ketika sampai di pulau itu, menjadi kata ‘indah yang semu’.

Sasaran itulah yang akan dituju lewat kegiatan “FUN IN ISLAND” yang diadakan oleh Pecinta Alam Paroki Salib Suci (PALAPASS) pada 6-7 Juli 2013. Selain kita berlibur, kita juga akan melakukan penanaman bakau dan operasi bersih pulau. Itulah alasan mengapa PALAPASS mengadakan kegiatan ini di Pulau Untung Jawa.

Lewat kegiatan ini PALAPASS berharap akan ada dampak baik yang didapat. Pelestarian alam dan menjaga kebersihan pulau itulah yang menjadi harapan dari kegiatan ini, karena pada dasarnya menjaga alam kita ini tidak hanya di gunung seperti yang sering dilakukan oleh PALAPASS, tetapi dimana pun kita berada kita harus selalu sadar untuk menjaga lingkungan sekitar kita.

Mendaki Gunung & Menghargai Hidup

Sedikit sekali orang yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya, jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.

Pencinta Alam atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang – orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape – cape naik Gunung. Nyampe ke puncak, turun lagi…mana di sana dingin lagi, hi…!!!!!!!”

Tapi tengoklah ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan dididik oleh alam. Mandiri, rasa percaya diri yang penuh, kuat dan mantap mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika menjadi naik hanya untuk menjawab golongan mayoritas yang tak henti – hentinya mencibir mereka. Dan begitu segalanya terjadi, tak ada lagi yang bisa berkata bahwa mereka adalah pembual !!!!!

Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama.

Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.

Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja. Hanya jangan terus – terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup.

Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.

Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya.

Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kegiatan mereka, maka biarkan sajalah. Karena siapapun orangnya yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia – sia belaka, tidak ada yang menaifkan hal ini. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara di mana mereka tidak bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh para petualang ini, yaitu kemenangan saat kaki tiba pada ketinggian.

Jumat, 21 Juni 2013

YANG MUDA, YANG MENCINTAI LINGKUNGANNYA

Lebih baik satu burung di tangan, daripada sepuluh burung di pohon. Kata “cintailah lingkunganmu” kadang hanya menjadi sebuah klise belaka, namun bagi beberapa orang hal ini menjadi cambukan keras bagi dirinya. Cambukan yang keras itu membuat mereka harus melakukan sesuatu, daripada tidak sama sekali.


Kita pun pasti sering mendengar ungkapan kata “Yang muda, yang mencintai lingkungannya”, kata inilah yang di jadikan  oleh Pecinta Alam Paroki Salib Suci (PALAPASS) sebagai salah satu visi organisasinya. Organisasi yang terbentuk pada 23 Juni 2003 ini, menjadi salah satu wadah bagi orang muda di paroki Cilincing, Jakarta Utara untuk mencintai lingkungan dalam tindak nyata.

PALAPASS  tergerak karena terjadinya begitu banyak masalah lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Sampah, adalah salah satu limbah yang terus menerus diproduksi oleh manusia. Ribuan sampah yang berserakan di lingkungan paroki, menjadi perhatian besar PALAPASS.

Kenapa harus sampah? Selain menjadi limbah terbesar yang diproduksi manusia, sampah pun biasanya tidak mendapat perhatian khusus oleh manusia. Dampak buruk dari sampah bagi manusia, yang paling riskan adalah menjadi sumber penyakit. Maka dari itu PALAPASS melakukan tindak nyata dengan melakukan kegiatan Operasi Bersih (OPSI) setiap minggunya.

Mungkin bagi kebanyakan orang sampah itu hal yang menjijikan, tapi sebagai organisasi orang muda yang dituntut untuk menjadi agen perubahan, PALAPASS menjadikan sampah sebagai tanggung jawab manusia terhadap lingkungannya. Para anggota PALAPASS pun menyebut dirinya sebagai ‘Agen Kebersihan’.

Gebrakan untuk meningkatkan kesadaran umat akan sampah sudah dilakukan dengan berbagai cara, dan kini PALAPASS melakukan penimbangan sampah yang berserakan dan yang terkumpul pada tong-tong sampah. Kegiatan pendaur ulangan sampah juga ingin lebih dikembangkan seturut berjalannya organisasi ini.
PALAPASS bukan hanya sekedar melakukan tindak nyata menjaga lingkungannya, tapi organisasi ini juga melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pecinta alam dengan menikmati serta mensyukuri atas keindahan alam ciptaan Tuhan, dengan melakukan pendakian gunung dan kegiatan alam lainnya.

Orang muda memang ditantang agar menjadi agen perubahan, dan PALAPASS dapat menjadi salah satu wadah perubahan dalam mencintai lingkungannya bagi Paroki Salib Suci. Siapkah kita yang muda menerima tantangan ini?

Jumat, 07 Juni 2013

CIREMAI REKAM SEMUANYA DALAM KEGAGAHANNYA


Seiring sang mentari yang telah berdiri di ufuk timur Kota Kuningan, sampailah sekelompok pecinta alam yang menamakan dirinya PALAPASS di kota kecil  daerah Jawa Barat itu pada 9 Mei 2013 lalu. Penampilan yang sedikit berantakan, menjadi cindera mata dari perjalanan satu malam dari Jakarta menuju Kuningan.

Sayup-sayup udara dingin sesekali masih bertiup, seakan menusuk tulang-tulang yang hanya berbalut seonggok daging dan sehelai pakaian yang mereka kenakan. Sekitar satu jam perjalanan menggunakan angkot dari pertigaan Cirendang, sampailah mereka di Base Camp Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Hamparan indah pelataran Gunung Ciremai (3078mdpl) telah terpampang luas di hadapan mereka. Gagahnya puncak Ciremai tak sedikit pun menurunkan nyali mereka untuk melakukan pendakian, namun seakan menyulut api semangat dalam diri mereka untuk segera melakukan pendakian.

Usai makan pagi untuk sekedar mengisi perut dan sebagai bekal penambah stamina, mereka langsung melakukan pendakian. Perjalanan dirasa cukup  menghabiskan banyak tenaga untuk mencapai Pos 1 Cigowong, sebuah tanah lapang yang memiliki sumber mata air, dan tempat ini menjadi sumber mata air pertama dari dua sumber mata air yang ada di Ciremai.

Setelah tiga jam perjalanan berlalu sampailah mereka di Cigowong, tepat waktu untuk makan siang dan mengisi stamina kembali untuk melanjutkan perjalanan. Namun karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat shelter (buka tenda) di Cigowong.

Malam berlalu dan pagi pun tiba, meski subuh tadi titik-titik hujan membasahi tenda mereka, tapi untunglah saat itu terang, dan mereka siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Pos 8 Goa Walet. Pos yang menjadi tempat sumber mata air terakhir di Ciremai sebelum menuju puncak Ciremai.

Tepat ketika senja melangkah datang menghampiri, perjalanan pun usai. Kini Goa Walet telah berada di hadapan mereka. Perjalanan mereka menuju Goa Walet bukan hanya perjalanan biasa saja, namun menjadi saksi bisu bagi tim PALAPASS khususnya angkatan 3 tentang semangat persaudaraan yang membuat mereka mampu berjalan. Jauh lebih lama dan lebih jauh dari biasanya.

Waktu hampir malam, dan perut terasa sangat lapar. Sesaat setelah makan malam kami langsung beristirahat agar esok hari kami mampu mencapai puncak Ciremai bersama-sama.

Kabut masih turun secara perlahan, udara dingin seakan menusuk-nusuk jaket tebal yang mereka gunakan, seakan memaksa mereka tuk bangun dari mimpinya dan bergegas melakukan pendakian menuju puncak Ciremai.

Perjalanan menuju puncak Ciremai hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Sesampainya di puncak itu, rasa haru, rasa lelah bercampur satu dan terwujud dalam doa syukur yang dipanjatkan oleh tiap insan dari kelompok PALAPASS itu.

Ciremai seakan menjadi saksi bisu dan perekam abadi dari bagaimana sekelompok anggota pecinta alam PALAPASS. Saksi dari sebuah kelelahan, sebuah pengorbanan, sebuah tenggang rasa dalam memahami sahabat yang dianggap sebagai saudara sendiri, dan saksi bagaimana seorang pribadi telah mampu mengatasi dan melewati batas-batas dalam dirinya sendiri.