Papandayan berikan
sebuah kisah baru bagi PALAPASS. Kegiatan Pendakian Massal “Tinggalkan Jejak
Hijaumu” yang diadakan di Gunung Papandayan, Garut pada 29 November s/d 1
Desember 2013 meninggalkan sebuah pesan jika tak selamanya gunung itu kotor,
karena ulah para pendaki yang kurang bertanggung jawab atas sampah mereka.
Tema kegiatan
“Tinggalkan Jejak Hijaumu” yang semula dirancang oleh PALAPASS ke Gunung
Papandayan, memang bermaksud untuk menjalankan kegiatan Operasi Bersih (OPSI).
Sebuah kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan kawasan sekitar dari sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para
pendaki.
Kenyataan yang dihadapi
di sana memang cukup berbeda. Tempat yang seharusnya diprediksi menjadi tempat
berkumpulnya sampah-sampah, namun ternyata selama perjalanan pendakian menuju areal camping tidak ada sampah yang
nampaknya berani mengotori jalur pendakian. Alasan PALAPASS memilih Gunung
Papandayan menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ini karena jalur yang
ditempuh oleh para peserta kegiatan tak terlalu sulit, jarak yang ditempuh
untuk mencapai areal camping tak
terlalu jauh, dan karena gunung ini bukan hanya dilalui oleh para pendaki saja,
tetapi banyak para penambang sulfur yang berlalu-lalang, serta banyak tukang
ojek yang menawarkan tumpangan dengan motor trailnya.
Meeting
Point awal acara
ini adalah di Paroki Salib Suci, Cilincing pada tanggal 29 November pukul 20.00
WIB. Keberangkatan menuju Kota Garut dimulai pada pukul 21.00 dan sampai tepat
di pertigaan Cisurupan pada pukul 02.00 WIB. Seturunnya dari bis pariwisata,
dinginnya pegunungan langsung menyerang tubuh para pendaki. Belum sempat
menghilangkan dingin dari tubuh, para peserta pendaki langsung diantar ke pos
pendaftaran Gunung Papandayan dengan menggunakan mobil pick-up.
Pendakian menuju Pondok
Salada dimulai pada tanggal 30 November 2013 tepat pada pukul 06.00 WIB. Awal
pendakian menuju gunung ini kita sudah disuguhi dengan indahnya alam. Puluhan
kawah terhampar di awal perjalanan mendaki menuju Pondok Salada. Beberapa
peserta sempat merasa sesak di saat menghela nafas karena udara yang dihirup
sudah terkontaminasi oleh gas sulfur.
Siang menjelang, tepat
sebelum jam makan siang terlewati, pada pukul 11.30 WIB peserta kegiatan
“Tinggalkan Jejak Hijaumu” sampai di Pondok Salada. Acara langsung disambung
dengan mendirikan tenda (shelter)
lalu makan siang.Perjalanan mendaki untuk hari itu berhenti di Pondok Salada.
Hari hampir berlalu namun sebelum menutup hari acara dilanjut dengan acara api
unggun. Meski suhu saat itu begitu dingin, namun api unggun dan keramaian
obrolan para peserta pendakian membuat suasana menjadi begitu hangat.
Keesokan harinya, ketika Sang Matahari masih malu-malu keluar dari peraduannya, pada pukul 06.00 WIB pendakian dilanjutkan menuju Tegal Alun yang merupakan area konservasi. Tegal Alun merupakan lading yang dipenuhi ratusan Edelweis (Anaphalis Javanica) yang merupakan flora khas Pulau Jawa. Sebelum menuju Tegal Alun, peserta disuguhi dengan ratusan pohon mati akibat letusan Papandayan, area itu disebut dengan nama Hutan Mati. Tempat itu seakan menjadi saksi bisu akan ganasnya gunung di daerah Garut itu.
Setelah sampai di Tegal Alun, dan mengambil foto-foto pemandangan di Tegal Alun, peserta langsung menuju kembali ke areal camp Pondok Salada. Sesampainya di sana peserta langsung makan siang. Ketika para peserta usai makan siang, acara dilanjutkan dengan acara inti dari “Tinggalkan Jejak Hijaumu” yaitu kegiatan OPSI. Antusias peserta untuk menjalankan OPSI cukup baik, namun OPSI yang diadakan hanya di sekitaran areal camp karena sanitasinya cukup baik.
Acara ini dinilai cukup
sukses karena tujuan utama dari acara ini adalah mengajak para peserta untuk
turut berpartisipasi untuk peduli dengan alam sekitar kita. Dengan menjaga alam
sekitar kita, kita belajar juga untuk mensyukuri alam cipataanNya yang indah
ini,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar