Kamis, 16 Januari 2014

TINGGALKAN JEJAK HIJAUMU DI PAPANDAYAN


Papandayan berikan sebuah kisah baru bagi PALAPASS. Kegiatan Pendakian Massal “Tinggalkan Jejak Hijaumu” yang diadakan di Gunung Papandayan, Garut pada 29 November s/d 1 Desember 2013 meninggalkan sebuah pesan jika tak selamanya gunung itu kotor, karena ulah para pendaki yang kurang bertanggung jawab atas sampah mereka.

Tema kegiatan “Tinggalkan Jejak Hijaumu” yang semula dirancang oleh PALAPASS ke Gunung Papandayan, memang bermaksud untuk menjalankan kegiatan Operasi Bersih (OPSI). Sebuah kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan kawasan sekitar dari  sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki.

Kenyataan yang dihadapi di sana memang cukup berbeda. Tempat yang seharusnya diprediksi menjadi tempat berkumpulnya sampah-sampah, namun ternyata selama perjalanan pendakian menuju areal camping tidak ada sampah yang nampaknya berani mengotori jalur pendakian. Alasan PALAPASS memilih Gunung Papandayan menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ini karena jalur yang ditempuh oleh para peserta kegiatan tak terlalu sulit, jarak yang ditempuh untuk mencapai areal camping tak terlalu jauh, dan karena gunung ini bukan hanya dilalui oleh para pendaki saja, tetapi banyak para penambang sulfur yang berlalu-lalang, serta banyak tukang ojek yang menawarkan tumpangan dengan motor trailnya.

Meeting Point  awal acara ini adalah di Paroki Salib Suci, Cilincing pada tanggal 29 November pukul 20.00 WIB. Keberangkatan menuju Kota Garut dimulai pada pukul 21.00 dan sampai tepat di pertigaan Cisurupan pada pukul 02.00 WIB. Seturunnya dari bis pariwisata, dinginnya pegunungan langsung menyerang tubuh para pendaki. Belum sempat menghilangkan dingin dari tubuh, para peserta pendaki langsung diantar ke pos pendaftaran Gunung Papandayan dengan menggunakan mobil pick-up.

Pendakian menuju Pondok Salada dimulai pada tanggal 30 November 2013 tepat pada pukul 06.00 WIB. Awal pendakian menuju gunung ini kita sudah disuguhi dengan indahnya alam. Puluhan kawah terhampar di awal perjalanan mendaki menuju Pondok Salada. Beberapa peserta sempat merasa sesak di saat menghela nafas karena udara yang dihirup sudah terkontaminasi oleh gas sulfur.

Siang menjelang, tepat sebelum jam makan siang terlewati, pada pukul 11.30 WIB peserta kegiatan “Tinggalkan Jejak Hijaumu” sampai di Pondok Salada. Acara langsung disambung dengan mendirikan tenda (shelter) lalu makan siang.Perjalanan mendaki untuk hari itu berhenti di Pondok Salada. Hari hampir berlalu namun sebelum menutup hari acara dilanjut dengan acara api unggun. Meski suhu saat itu begitu dingin, namun api unggun dan keramaian obrolan para peserta pendakian membuat suasana menjadi begitu hangat.

Keesokan harinya, ketika Sang Matahari masih malu-malu keluar dari peraduannya, pada pukul 06.00 WIB pendakian dilanjutkan menuju Tegal Alun yang merupakan area konservasi. Tegal Alun merupakan lading yang dipenuhi ratusan Edelweis (Anaphalis Javanica) yang merupakan flora khas Pulau Jawa. Sebelum menuju Tegal Alun, peserta disuguhi dengan ratusan pohon mati akibat letusan Papandayan, area itu disebut dengan nama Hutan Mati. Tempat itu seakan menjadi saksi bisu akan ganasnya gunung di daerah Garut itu.

Setelah sampai di Tegal Alun, dan mengambil foto-foto pemandangan di Tegal Alun, peserta langsung menuju kembali ke areal camp Pondok Salada. Sesampainya di sana peserta langsung makan siang. Ketika para peserta usai makan siang, acara dilanjutkan dengan acara inti dari “Tinggalkan Jejak Hijaumu” yaitu kegiatan OPSI. Antusias peserta untuk menjalankan OPSI cukup baik, namun OPSI yang diadakan hanya di sekitaran areal camp karena sanitasinya cukup baik.

Acara ini dinilai cukup sukses karena tujuan utama dari acara ini adalah mengajak para peserta untuk turut berpartisipasi untuk peduli dengan alam sekitar kita. Dengan menjaga alam sekitar kita, kita belajar juga untuk mensyukuri alam cipataanNya yang indah ini,  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar