Jumat, 21 Maret 2014

PECINTA ALAM BUKAN SEBUAH NAMA BIASA

Indonesia yang sangat kaya akan  keindahan bentang alamnya, tak sengaja memunculkan orang-orang yang  berkecimpung di kegiatan alam. Begitu banyak yang sudah terlibat dari sekedar para penikmat alam sampai sekelompok orang yang menamakan dirinya pecinta alam.
Apa sebenarnya pecinta alam itu? Dan sejak kapan nama pecinta alam itu mulai muncul? Jika ingin berbicara soal ini, ada baiknya kita runtut sejarah tentang pecinta alam.


Nama Soe Hok Gie yang disebut-sebut sebagai aktivis yang tak sengaja memunculkan sebutan ‘Pecinta Alam” bagi sekelompok orang yang mengabdikan hidupnya bagi alam sekitarnya.
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
-Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran.
Soe Hok Gie mempunyai latar belakang sebagai seorang aktivis kampus muda pada tahun 1964. Gie akhirnya meninggal di tengah-tengah perjalanan turun dari puncak Mahameru- Semeru, karena terkena gas beracun yang setiap harinya hingga kini masih aktif dikeluarkan oleh Gunung Semeru.

Beberapa tahun setelah Gie meninggal, muncullah Kode Etik Pecinta Alam, dan berhasil disahkan di Ujung Pandang pada 24 Januari 1974.

Namun sayangnya semakin lama nama pecinta alam semakin disalah gunakan. Penyalah gunaannya yang mudah terlihat adalah dengan cara vandalisme. Tanpa mampu kita pungkiri coretan-coretan absurd itu dibuat oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya pecinta alam. Miris sekali nampaknya.

Jika kita menengok keluar, negara-negara lain tidak ada kumpulan orang yang berani menamakan dirinya dengan kata “pecinta alam”, karena tanpa disadari tanggung jawab yang dipikul dari kedua kata itu cukup berat. Biasanya mereka menamakan dirinya dengan sebutan aktivis lingkungan.

Kini kelompok-kelompok pecinta alam semakin banyak tersebar di Indonesia. Semoga saja mereka yang menamakan dirinya pecinta alam mampu memahami dan menjalani tanggung jawab sebagai pecinta alam sesungguhnya. LESTARI…

1 komentar: