Jumat, 07 Juni 2013

CIREMAI REKAM SEMUANYA DALAM KEGAGAHANNYA


Seiring sang mentari yang telah berdiri di ufuk timur Kota Kuningan, sampailah sekelompok pecinta alam yang menamakan dirinya PALAPASS di kota kecil  daerah Jawa Barat itu pada 9 Mei 2013 lalu. Penampilan yang sedikit berantakan, menjadi cindera mata dari perjalanan satu malam dari Jakarta menuju Kuningan.

Sayup-sayup udara dingin sesekali masih bertiup, seakan menusuk tulang-tulang yang hanya berbalut seonggok daging dan sehelai pakaian yang mereka kenakan. Sekitar satu jam perjalanan menggunakan angkot dari pertigaan Cirendang, sampailah mereka di Base Camp Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Hamparan indah pelataran Gunung Ciremai (3078mdpl) telah terpampang luas di hadapan mereka. Gagahnya puncak Ciremai tak sedikit pun menurunkan nyali mereka untuk melakukan pendakian, namun seakan menyulut api semangat dalam diri mereka untuk segera melakukan pendakian.

Usai makan pagi untuk sekedar mengisi perut dan sebagai bekal penambah stamina, mereka langsung melakukan pendakian. Perjalanan dirasa cukup  menghabiskan banyak tenaga untuk mencapai Pos 1 Cigowong, sebuah tanah lapang yang memiliki sumber mata air, dan tempat ini menjadi sumber mata air pertama dari dua sumber mata air yang ada di Ciremai.

Setelah tiga jam perjalanan berlalu sampailah mereka di Cigowong, tepat waktu untuk makan siang dan mengisi stamina kembali untuk melanjutkan perjalanan. Namun karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat shelter (buka tenda) di Cigowong.

Malam berlalu dan pagi pun tiba, meski subuh tadi titik-titik hujan membasahi tenda mereka, tapi untunglah saat itu terang, dan mereka siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Pos 8 Goa Walet. Pos yang menjadi tempat sumber mata air terakhir di Ciremai sebelum menuju puncak Ciremai.

Tepat ketika senja melangkah datang menghampiri, perjalanan pun usai. Kini Goa Walet telah berada di hadapan mereka. Perjalanan mereka menuju Goa Walet bukan hanya perjalanan biasa saja, namun menjadi saksi bisu bagi tim PALAPASS khususnya angkatan 3 tentang semangat persaudaraan yang membuat mereka mampu berjalan. Jauh lebih lama dan lebih jauh dari biasanya.

Waktu hampir malam, dan perut terasa sangat lapar. Sesaat setelah makan malam kami langsung beristirahat agar esok hari kami mampu mencapai puncak Ciremai bersama-sama.

Kabut masih turun secara perlahan, udara dingin seakan menusuk-nusuk jaket tebal yang mereka gunakan, seakan memaksa mereka tuk bangun dari mimpinya dan bergegas melakukan pendakian menuju puncak Ciremai.

Perjalanan menuju puncak Ciremai hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Sesampainya di puncak itu, rasa haru, rasa lelah bercampur satu dan terwujud dalam doa syukur yang dipanjatkan oleh tiap insan dari kelompok PALAPASS itu.

Ciremai seakan menjadi saksi bisu dan perekam abadi dari bagaimana sekelompok anggota pecinta alam PALAPASS. Saksi dari sebuah kelelahan, sebuah pengorbanan, sebuah tenggang rasa dalam memahami sahabat yang dianggap sebagai saudara sendiri, dan saksi bagaimana seorang pribadi telah mampu mengatasi dan melewati batas-batas dalam dirinya sendiri.
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar